Anggota Komisi IX DPR RI Nurhayati; Merokok Bisa Jadi Pemicu Stunting, Peran Bapak-Bapak Sangat Penting

- 15 Agustus 2023, 06:00 WIB
Anggota Komisi IX DPR RI Nurhayati; Merokok Bisa Jadi Pemicu Stunting Peran Bapak-Bapak Sangat Penting
Anggota Komisi IX DPR RI Nurhayati; Merokok Bisa Jadi Pemicu Stunting Peran Bapak-Bapak Sangat Penting /Jurnal Soreang / Tenang Safari/BKKBN Jabar

JURNAL SOREANG – “Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang stunting sangat penting. Tujuannya agar masyarakat memahami bahaya stunting dan mereka bisa berperan aktif mencegah stunting. Bapak-bapak punya peran di sini, yaitu janganlah jadi pemicu stunting dari kebiasaan merokok. Penting untuk tidak merokok di dalam ruangan, terutama yang ada anak-anak dan ibu hamil.”

Ungkapan ini disampaikan anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Nurhayati Effendi di hadapan ratusan warga yang menghadiri Pembinaan Keluarga Berisiko Stunting Bersama Mitra Kerja di GOR Kompak, Jalan Cicariang, Kawalu, Tasikmalaya, Minggu 13 Agustus 2023.

Baca Juga: RAMALAN CINTA ZODIAK 15 Agustus 2023! Virgo, Cancer dan Leo Kejutkan Pasangan dengan Sesuatu yang Istimewa

Nurhayati mengingatkan bahwa kaum pria punya andil besar terkait percepatan penurunan stunting. Peran yang bisa diambil adalah mendukung terciptanya pola hidup sehat dalam keluarga, salahsatunya tidak merokok di dalam rumah.

Banyak hal yang diperlukan dalam upaya pencegahan dan menghindari risiko stunting. Dia berharap kaum pria bisa sama-sama menjaga hidup sehat, keluarga sehat, dan lingkungan sehat. Disamping tersedianya sanitasi baik, sambung Nurhayati.

Tasikmalaya masih jadi penyumbang stunting di Jawa Barat. Jika bisa menurunkan stunting, berarti punya andil besar secara signifikan pada penurunan stunting nasional. Upaya pencegahan bisa dimulai dari rumah yang bersih, bersanitasi baik, lingkungan bersih, dan layak huni.

Baca Juga: Ketua RT Sebut Terduga Teroris yang Ditangkap Densus 88 Polri Pernah Bekerja di Pabrik Cokelat di Bandung

Di luar aspek kesehatan atau kekurangan gizi, tak kalah sensitif kondisi lingkungan. “Saya berharap di Kota Tasikmalaya satu PNS dapat membantu satu anak stunting, atau bisa juga satu RT menangani satu anak stunting di lingkungannya. Ini akan mempercepat penurunan stunting di Kota Tasikmalaya,” ujar Nurhayati.

Dia mengingatkan, stunting tidak hanya jadi bahasan pembicaraan dan dirapatkan. Lebih penting dari situ adalah tindakan nyata di lapangan. “Untuk itu, ini harus menjadi garapan bersama, hingga melakukan langkah intervensi langsung,” paparnya.

Baca Juga: Aktivis: Wilayah Berbasis Pertanian, Tapi Kabupaten Ciamis Krisis Petani! Begini Jawaban Kadisdik

“Pemerintah tengah fokus menekan penyebaran stunting. Menargetkan penurunan hingga di angka 14 persen pada 2024. Saat ini masih di atas 20 persen. Upaya mencegah ini tak bisa dilakukan sendiri pemerintah, melainkan harus bersama-sama,” pungkas Nurhayati.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat Fazar Supriadi menekankan pentingnya mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Kita masuk kelompok negara yang warganya masih dalam deret berkualitas SDM rendah. Hasil satu survei, IQ teranyar dari 199 negara disurvei, Indonesia di posisi ke-130. Kalah oleh China, Korsel,” sebutnya.

Negara-negara maju sudah mempersiapkan generasinya sebaik mungkin. Indonesia pun perlu seperti itu. “Mereka sudah memersiapkan generasi sebaiknya-baiknya. Di negara maju tidak boleh ada yang namanya stunting,” ucapnya.

Baca Juga: BKKBN Jabar Gencarkan Sosialiasi Pengasuhan 1000 HPK untuk Percepatan Penurunan Stunting

Untuk menjadi negara maju, imbuh Fazar, setidaknya menuju 2045. Ini harus dipersiapkan dari sekarang. Salah satunya dengan menghindari stunting. Setiap anak harus mendapatkan imunisasi lengkap.

Di akhir penjelasannya, Fazar mengingatkan ikhwal pentingnya mengawal upaya menurunkan prevalensi stunting. Tasikmalaya masih dengan angka 22,45 persen yang harus terus ditekan.

Salah satu solusi yang harus terus disampaikan adalah sosialisasi dan edukasi menghindari menikah pada usia muda. Selain itu, penting untuk mengonsumsi air bersih, menggunakan jamban sehat, dan menjaga pola hidup sehat lainnya. Khusus kepada tim pendamping keluarga (TPK), Fazar meminta untuk lebih intens dalam mendampingi calon pengantin.**

Ikuti terus dan share informasi Anda di media sosial Google News Jurnal Soreang, FB Page Jurnal Soreang, YouTube Jurnal Soreang, Instagram @jurnal.soreang, dan TikTok @jurnalsoreang

Editor: Tenang Safari

Sumber: BKKBN Jabar


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x