Perkuat Karakter Pelajar Pancasila, Berikut yang Dilakukan Kemendikbudristek

22 Februari 2023, 06:22 WIB
Untuk Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang jatuh pada 21 Februari, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) mengadakan kegiatan peduli sampah bersama para siswa inklusi di SDN Pegadungan 11 Pagi, Senin 20 Februari 2023 /Kemendikbud ristek/

JURNAL SOREANG- Untuk Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang jatuh pada 21 Februari, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) mengadakan kegiatan peduli sampah bersama para siswa inklusi di SDN Pegadungan 11 Pagi, Jakarta, Senin 20 Februari 2023.

Bekerja sama dengan Komunitas Pilah Sampah, kegiatan yang bertajuk Penguatan Karakter melalui Aksi Peduli Lingkungan pada Tri Pusat Pendidikan itu, para siswa inklusi atau anak-anak penyandang disabilitas diberikan pengetahuan dan pengalaman dalam mengelola sampah dengan baik.

Kepala Puspeka Kemendikbudristek, Rusprita Putri Utami mengatakan bahwa mengelola sampah yang baik merupakan salah satu upaya dalam menjaga lingkungan. Hal tersebut sekaligus merupakan cerminan nilai-nilai yang tertuang dalam dimensi Profil Pelajar Pancasila.

Baca Juga: Di Jambi, OASE KIM Usung Belajar dan Bermain Guna Kuatkan Profil Pelajar Pancasila untuk Anak Usia Dini

Sedikitnya, ada tiga nilai dalam dimensi Profil Pelajar Pancasila yang berkaitan dengan pengelolaan sampah.

Pertama adalah Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia terutama akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, dan akhlak kepada alam.

Kedua, Bergotong-royong yakni kolaborasi dan kepedulian. Ketiga, Kreatif dengan menghasilkan karya serta tindakan original.

“Anak-anak perlu mendapatkan pengetahuan dan pengalaman langsung bagaimana mengelola sampah dengan baik. Sehingga mereka bisa menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Profil Pelajar Pancasila, yaitu dengan ikut menjaga lingkungan agar tetap bersih dan bebas dari sampah serta membuatnya menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ungkap Rusprita.

 Sebagaimana diketahui, sampah masih menjadi masalah serius yang perlu digarap oleh banyak pihak, termasuk dunia pendidikan.

“Dalam kegiatan ini, kami juga ingin menciptakan iklim inklusivitas dengan melibatkan anak-anak disabilitas. Para siswa inklusi juga berhak mendapatkan kesempatan belajar yang sama dan terlibat dalam pengelolaan sampah secara berkelanjutan yang dapat memberikan dampak positif terhadap kontribusi upaya penurunan emisi gas dan efek rumah kaca,” imbuhnya.

Berdasarkan Grafik Komposisi Sampah Tahun 2022 yang telah dihimpun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sampah rumah tangga menyumbang persentase paling banyak yaitu sebesar 37,6 persen atau hampir dari setengah jumlah sampah di Indonesia.

Baca Juga: Cari Solusi Masalah Sampah, Bupati Bandung Akan Bangun Pengelolaan Sampah Induk Di Tiap Desa

Sampah rumah tangga meliputi sampah dari dapur, sisa-sisa makanan, pembungkus (selain kertas, karet, dan plastik), tepung, sayuran, kulit buah, daun, dan ranting.

Oleh karena itu, kegiatan ini tidak hanya melibatkan siswa inklusi tetapi juga seluruh warga sekolah termasuk orang tua.

Harapannya, setelah mengikuti kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran semua pihak bahwa mengelola sampah yang baik adalah tanggung jawab bersama demi keberlangsungan lingkungan hidup yang bersih.

“Kalau di sekolah, tanggung jawabnya bukan hanya oleh petugas kebersihan tapi seluruh warga sekolah ikut bertanggungjawab memastikan lingkungan yang bersih dan bebas dari sampah. Di rumah juga begitu, orang tua diharapkan bisa menjadi role model atau panutan bagi anak,” tutur Rusprita.***

Ikuti dan share terus informasi Anda di media sosial Google News Jurnal SoreangFB Page Jurnal SoreangYouTube Jurnal SoreangInstagram @jurnal.soreang, dan TikTok @jurnalsoreang

Editor: Sarnapi

Sumber: Kemendikbudristek

Tags

Terkini

Terpopuler